Kisah Masuk Islam Sahabat Thufail Bin A’mr Ad dausi

Thufail bin A’mr Ad dausi, beliau dari kabilah daus dan termasuk diantara orang-orang yang memiliki kemulian dan kewibawaan di zamannya. Sehingga tak heran apabila rumahnya selalu dikunjungi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan.

Dan ia juga memiliki sifat mulia, memberikan makan kepada orang yang membutuhkan, memberikan rasa aman dan melindungi orang yang membutuhkan perlindungan dan ia juga memiliki kecerdasan, memiliki perasaan, kelembutan dan seorang penyair. Begitu lah sifat kepribadian beliau sebelum masuk islam.

Bagaimana kisah masuk islamnya beliau?

Suatu hari Thufail bin A’mr pergi meninggalkan rumahnya di tihamah menuju ke makkah. Dan ketika itu orang-orang musryikin makkah mencari pendukung untuk memusuhi Rasulullah sholallahu a’alihi wa sallam. Sedangkan Thufail bin A’mr tidak bertujuan ikut dalam memusuhi Rasulullah sholallahu a’alaihi wa sallam dan sama sekali tidak terbetik dalam pikirannya tentang urusan orang-orang Quraiys dengan Rasulullah sholallahu a’alaihi wa sallam.

Tapi orang-orang quraiys, ketika melihat Thufail bin A’mr datang ke makkah. Mereka menyambutnya dengan senang hati, memberikan kepadanya jamuan istimewa. Dan para pemuka quraiys berkumpul, menyampaikan kondisi masyarakat setelah Rasulullah menyampaikan wahyu Allah kepada mereka yaitu mengajak beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.

Orang-orang quraiys mengatakan: “Wahai Thufail, kamu datang ke negeri kami dan disini ada laki-laki yang menyangkan bahwa dirinya seorang nabi, dia merusak urusan kami dan memecah-belah persatuan kami dan mencerai-beraikan jama’ah kami dan kami takut apabila hal itu menimpamu dan kaummu sebagaimana yang terjadi pada kami. Maka jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan sedikit pun mendengarkan ucapannya, karena ucapannya seperti sihir yang dapat memisahkan antara anak dan bapaknya, antara saudara dengan saudaranya, antara istri dan suaminya”.

Thufail berkata; “Demi Allah, mereka menceritakan kepadaku dari keanehan-keanehan beritanya dan selalu menakut-nakutiku dan kaumku tentang urusan muhammad sehingga aku pun bertekad untuk tidak mendekatinya, tidak berbicara dengannya, dan tidak mendengarkan ucapannya”. Begitulah cara orang-orang musryikin dalam menghalangi manusia dari jalan Allah.

Disaat thufail pergi ke ka’bah untuk thowaf dan mencari berkah dengan patung-patung di sekitar ka’bah, yang mana adat istiadat masyarakat quraiys ketika itu mengagungkan patung-patung itu. Ia menyumbat kedua telinganya dengan kapas, takut apabila ucapan muhammad masuk ke telinganya.

Thufail berkata; “Tapi tidaklah aku masuk kedalam masjid, melainkan aku menjumpai muhammad disisi ka’bah berdiri sholat tidak seperti sholat kami, beribadah tidak seperti ibadah kami, pemandangan ketika itu membuat ta’jub diriku, ibadahnya mencegangkan diriku dan diriku sedikit demi sediki berjalan mendekatinya”.

Thufail berkata kepada dirinya sendiri; Celaka kamu thufail, kamu adalah seorang penyair, tidak tersembunyi kebaikan dari keburukan, apa yang menghalangimu dari mendengarkan dari laki-laki itu, apabila baik maka terimalah dan apabila buruk maka tinggalkan lah.

Sehingga thufail akhirnya berjalan mengikuti nabi muhammad ke rumahnya dan meminta nabi agar menyampaikan kepadanya apa yang perlu untuk disampaikan. Maka nabi membacakan surat al-ikhlas dan al-falaq kepadanya dan thufail seolah-olah tidak mendengar ucapan seindah ini sebelumnya dan tidak melihat sebuah urusan yang lebih dari ini. Ketika cahaya iman mulai masuk kedalam hatinya maka ia memutuskan untuk masuk kedalam islam bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan nabi muhammad adlah utusan Allah.

Begitulah kisah perjalanan beliau masuk kedalam agama islam, beliau tidak termakan oleh omongan orang dalam mencari kebenaran. Oleh karena itu seorang muslim yang ingin berjalan diatas sunnah Rasulullah sholallahu a’alaihi wa sallam agar tidak termakan oleh omongan manusia hanya karena berbeda menyelisihi masyarakatnya.

Sumber :[ Kitab Shuwar min hayati Shohabah]

Ditulis oleh: Ustadz Ade Vico (Alumni STDI Jember)

Related Posts

Leave a Reply