Benarkah Bagi Yang Sudah Lama Ngaji Syaitan Lebih Mengincar Akhlak Daripada Aqidah ?

Kedudukan aqidah dalam agama merupakan sebuah perkara yang amat penting untuk selalu diperhatikan, dikaji dan didakwahkan . Karena itu senantiasa nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kepada para sahabat tentang perkara aqidah ini bahkan sampai menjelang wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan demikian tidak layak seorang muslim penuntut ilmu syar’i memandang remeh perkara ini, meskipun ia adalah orang yang telah mempelajari aqidah yang shahih. Karena tidak ada seorangpun yang boleh merasa aman dari penyimpangan aqidah.

Namun akhir-akhir ini, ada sebuah penyataan yang sudah terlanjur viral…yang menyatakan bahwa BAGI YANG SUDAH LAMA NGAJI SYAITAN LEBIH MENGINCAR AKHLAK DARI PADA AQIDAH..Lalu berdalil dengan ayat ke 16 -17 surat Al A’raf.

Pernyataan ini sebenarnya telah lama kita dengar.. Namun ini pernyataan yang SALAH BESAR jika dikatakan bahwa “orang yang ngaji syetan tidak lagi mengincar dari sisi aqidah tapi dari sisi akhlaq” seolah-olah aqidah orang yang telah ngaji berada dalam level aman.

Ini jelas pendapat yang keliru, yang tidak berada diatas hujjah yang jelas.

MANA DALIL ATAS PERNYATAAN INI..??!

Adapun ayat dalam surat al A’raf :

(قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ * ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ)

[ (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,*
kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” ]

___________________
[Surat Al-A’raf 16 – 17]

Maka terang sekali ayat ini malah membantah dan meruntuhkan pernyataan diatas . Iblis berkata ketika bersumpah untuk menyesatkan manusia:
Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,”

( jalan-Mu yang lurus) صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Lalu Apakah itu Jalan Allah Yang Lurus?

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya :

أي طريق الحق وسبيل النجاة – ولأضلنهم عنها لئلا يعبدوك ولا يوحدوك بسبب إضلالك إياي

Yaitu jalan kebenaran dan jalan keselamatan -(Iblis berkata ):” Sungguh akan aku sesatkan mereka dari jalan itu agar mereka TIDAK MENGIBADATI ENGKAU DAN TIDAK MENTAUHIDKAN ENGKAU karena sebab Engkau telah menyesatkan aku”

Bagaimana mungkin dikatakan bahwa Iblis tidak lagi memprioritaskan tipu dayanya dalam masalah aqidah sedangkan dalam hal inilah sumpahnya dia ucapkan..

Karena itu para nabi dan rasul dengan ilmu yang Allah berikan kepada mereka tidak pernah merasa aman dalam perkara aqidah ini..

Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kedua anaknya adalah juga para nabi dan rasul –dan mereka tentu tidak bisa disamakan levelnya dengan orang yang telah ngaji– tetap berdo’a kepada Allah :

ً(…... وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ)
[ …dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala]

____________________
[Surat Ibrahim 35]

Dan juga nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam selalu memperbanyak do’a :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك
Wahai Yang membolak balikkan segala hati tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”
__ HR. Tirmidzi

yakni diatas Tauhid

dan juga Imam Ahmad sering berdoa:

اللّهُمّ أَمِتْنَا عَلَى الإِسلاَمِ والسُّنَّةِ
Ya Allah wafatkanlah kami diatas ISLAM dan SUNNAH”

Berdasarkan dalil dalil diatas mungkinkah kita beranggapan syetan tidak akan lagi memprioritaskan tipu dayanya kepada orang yang telah ngaji dari sisi aqidah tapi dari sisi akhlak..?!

Siapa yang menyangka seperti itu maka ia telah tertipu..

Iblis tidak sekedar menginginkan “kawan sehari” dineraka tapi yg ia inginkan “kawan abadi” ..dan tidak mungkin seseorang menjadi kawan abadi bagi Iblis kecuali mati dalam keadaan tidak bertauhid..

Sementara jatuhnya seseorang kedalam akhlak yang buruk tidak menyebabkan ia kekal dalam neraka seandainya ia masuk neraka.

Lalu masuk akalkah bahwa Iblis dan bala tentaranya berusaha keras siang malam untuk menyesatkan manusia hanya untuk menjadi “kawan sementara” dalam neraka..?!

Maksiat dan akhlak yang buruk hanya tujuan kedua adapun tujuan utamanya adalah KEKUFURAN DAN KESYIRIKAN sebagaimana yang ia katakan diakhir ayat ke 17 surat al A’raf diatas :

وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

makna شَاكِرِينَ ( orang-orang yang bersyukur) disini kata Ibnu Abbas adalah موحدين ( orang-orang yang bertauhid )

_______________________

Lihat tafsir Ibnu Katsir

Wallahu A’lam

Related Posts

Leave a Reply