Hadits Palsu: “Iman Tidak Bertambah Dan Tidak Berkurang”

Oleh : Ustadz Ade Vico (Alumni STDI Imam Syafi’i Jember)
Para ulama’ telah mengerahkan usaha mereka untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab-kitab mereka, baik hadits-hadits yang shohih maupun yang dhoif, lemah atau pun palsu. Dan diantara ulama’ yang mengumpulkan hadits-hadits yang lemah maupun palsu adalah Husain bin Ibrohim bin Husain al Jauroqoni dalam kitabnya al-Abaatiil wal Manaakiir wa Shihaah wal Masyahiir.

Dalam kitabnya ini, beliau menulis hadits pertama yang berkaitan tentang bertambahnya keimanan dan berkurangnya keimanan. metode beliau dalam menghukumi hadits adalah dengan menghukumi sanad haditsnya dan lafadz haditsnya, apabila lafadz hadits bertentangan dengan lafadz hadits yang shohih maka beliau menilai bahwa hadits tersebut lemah atau palsu.
Beliau membawakan hadits tentang keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Lafadz haditsnya sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الِإيمَانُ لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ»
Dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi sholallahu a’laihi wa sallam bersabda:Keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.
Apakah hadits ini shohih? Sehingga dapat dijadikan hujjah, dan menilai bahwa keimanan semua orang itu sama, antara pelaku maksiat dengan orang yang taat, antara orang yang melakukan ketaatan dengan pelaku dosa dan kemaksiatan, semua keimanan mereka sama tidak bertambah dan tidak berkurang?

BANTAHAN
Ternyata hadits diatas tidak dapat dijadikan hujjah karena dalam sanad hadits diatas terdapat perowi hadits yang pendusta yaitu Ahmad bin Abdillah al Juwaibarii oleh para ulama’ dijauhi riwayatnya dan terdapat hadits shohih yang menjelaskan bahwa keimanan itu bertambah dan berkurang.

Hadits lain yang juga merupakan hadits yang tidak sah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ وَفْدَ ثَقِيفٍ جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ عَنِ الْإِيمَانِ، هَلْ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ؟ فَقَالَ: « لَا، زِيَادَتُهُ كُفْرٌ وَنُقْصَانُهُ شِرْكٌ»
Dari sahabat Abu Huroiroh, bahwa utusan dari Bani Tsaqib telah datang menemui Nabi sholallahu a’alaihi wa sallam lalu mereka bertanya kepada nabi tentang keimanan, apakah keimanan itu bertambah dan berkurang? Lalu dijawab:Tidak, bertambahnya keimanan adalah kekufuran dan berkurangnya keimanan adalah kesyirikan
Apakah hadits ini shohih? Sehingga dapat dijadikan hujjah, ternyata tidak shohih. Husain bin Ibrohim bin Husain dalam kitabnya al abaatiil wal manaakiir wa shihaah wal masyahiir menilainya hadits diatas adalah palsu :
هَذَا حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ، وَهُوَ مِنْ مَوْضُوعَاتِ أَبِي مُطِيعٍ الْبَلَخِيِّ، وَأَبُو مُطِيعٍ ذَا اسْمُهُ الْحَكَمُ بْنُ عَبْدِ اللُّهِ الْبُلْخِيُّ، كَانَ مِنْ رُؤَسَاءِ الْمُرْجِئَةِ مِمَّنْ يَضَعُ الْحَدِيثَ وَيَبْغَضُ السُّنَنَ.

Hadits ini palsu bathil tidak ada asal usulnya dan hadits ini dari buatan-buatan Abi Muti’ al Balkhi dan Abu Muti’ namanya Hakam bin Abdillah albulkhi, dia termasuk dari pemimpin Murji’ah yang membuat-buat hadits dan membenci sunnah.
Dan kedua hadits tersebut telah beliau bantah dalam kitabnya dengan melihat sanad haditsnya dan lafadz haditsnya. Adapun lafadz hadits diatas bertentangan dengan hadits yang shohih dari sahabat Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَان»

Siapa yang melihat kemungkaran diantara kalian maka rubahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan itu lah selemah-lemahnya keimanan

________________

HR. Muslim : 49

SISI PENDALILAN

Dari hadits Muslim diatas maka kita ketahui, apabila ada tingkatan keimanan yang paling rendah, paling lemah maka tentu adapula keimanan yang paling tinggi, ini menunjukkan bahwa keimanan bertambah dan berkurang. Sehingga lafadz hadits muslim membantah tentang lafadz hadits yang mengatakan bahwa keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.

Juga hadits yang lain yang menunjukkan bahwa iman itu bertingkat adalah hadits dibawah ini :

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥُ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺃَﺭْﻓَﻌُﻬَﺎ ﻭَﺃَﻋْﻠَﺎﻫَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ

Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman memiliki enam puluh delapan pintu, yang paling tinggi adalah perkataan LAA ILAAHA ILLA ALLAH, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan.”

______________________

Musnad Ahmad : 8926

Dengan demikian, yang benar adalah keyakinan Ahlis Sunnah bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ilmu dan ketaatan dan berkurang dengan kejahilan dan kemaksiatan..

Billahit Taufiq wal Hidayah.

Leave a Reply