Adab Memberikan Nasehat

Muqaddimah

• Aqidah yang shahih dan keimanan yang benar, inilah dasar yang mengikat persaudaraan seluruh kaum muslimin, karena itulah Allah Ta’ala berfirman disini :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”

dan tidak Allah Ta’ala mengatakan :
إِنَّمَا الْمُسْلِمُوْنَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya kaum muslimin itu bersaudara”

Karena, aqidah /iman inilah yg menjadi dasar persaudaraan didalam Islam.

FAEDAH:
Tidak termasuk dalam makna ayat ini persaudaraan hizbiyyah, yakni persaudaraan yang dibangun diatas suku, kebangsaan, kelompok, aliran, organisasi atau figur yang dibangun diatasnya wala’ dan bara’

• Salah satu bentuk persaudaraan sesama orang-orang yang beriman, dan penyempurna dari keimanan dan kebaikan adalah memberikan nasehat untuk kaum muslim dalam perkara yang mendatangkan kebaikan untuk dunia dan akhirat mereka.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

‎: بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.

”Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta memberikan nasehat kepada setiap muslim.”
______
(HR. Bukhari 57 -Muslim 56)

• Hadits diatas menunjukkan agungnya kedudukan “nasehat” didalam Islam sehingga ia disebutkan dalam poin poin bai’atnya shahabat Jarir bin Abdullah kepada Nabi dan diletakkan hal ini setelah perkara sholat dan zakat.

Dalil yang lain adalah :

‎عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.”
________
(HR. Muslim, no. 55)

• Imam Ibnu Katsir dalam “An Nihayah” menyebutkan bahwa maksud dari lafaz “nasehat bagi kaum muslimin”, adalah:

إرشادُهم إلى مصالِحِهم

“Memberikan kepada mereka petunjuk yg membawa kemaslahatan bagi mereka”

Pembahasan

Para ulama mengatakan bahwa selayaknya setiap yang memberikan nasehat agar diikuti dengan adab, dan berikut ini beberapa adab dalam memberikan nasehat yang perlu diperhatikan kaum muslimin:

1. Bahwa hendaklah dasar yang menggerakkan jiwa seseorang untuk memberikan nasehat adalah kecintaannya agar saudaranya juga mendapatkan kebaikan sebagaimana yang ia inginkan, dan karena kekhawatirannya kalau saudaranya tertimpa oleh keburukan;

‎عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
_______
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Hendaklah orang yang memberikan nasehat adalah orang yang ikhlas dalam menyampaikan nasehatnya, dimana sang pemberi nasehat mengharapkan Wajah Allah dengan nasehatnya tersebut dan bukan tujuannya menampakkan keunggulan dan ketinggian dirinya terhadap orang yang dinasehati.

Dalam sebagian realita yang terjadi bahwa ada orang yang menyampaikan nasehat dengan penuh rasa kebanggaan dan meninggikan diri dimana digambarkan bahwa ia adalah orang yang telah mencapai kesuksesan dan keutamaan yang tidak dicapai oleh orang yang dinasehati, maka bentuk yang seperti ini tidak dibenarkan, dan hendaklah seorang muslim tawadhu’ dan ikhlas dalam memberikan nasehat.

• Sebagian ulama mengatakan :

النصيحة ثقيلة على القلوب، ولن تتقبلها إلا إذا خرجت من قلب طاهر نقي؛ لأن ما خرج من القلب يدخل مباشرة إلى القلب, والله تعالى لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصًا له وحده

“Nasehat itu berat diterima bagi jiwa dan tidak akan diterima kecuali dari disampaikan dari hati yang bersih, karena apa yang disampaikan dari hati akan langsung juga masuk kedalam hati, dan Allah tidak akan menerima amal apapun kecuali ikhlas untuk-Nya.”

Dengan demikian, ikhlas merupakan sebuah kekuatan yang mesti ada dalam sebuah nasehat.

3. Hendaknya nasehat tersebut adalah nasehat yang terbebas dari unsur tipu daya dan pengkhianatan

Diantara metode Ahlul Bathil yakni dari kelompok-kelompok sesat dan menyesatkan dalam mengarahkan manusia kepada jalan yang menyimpang adalah dengan menggunakan metode iblis yakni berkedok memberikan nasehat untuk membungkus kebathilannya agar tertipu orang yang diberikan nasehat olehnya, sebagaimana iblis ketika menyampaikan nasehat kepada Adam dan Hawa untuk menggelincirkan keduanya agar terjatuh dalam kesalahan dan dosa , Allah Ta’ala berfirman :

(فَوَسۡوَسَ إِلَیۡهِ ٱلشَّیۡطَـٰنُ قَالَ یَـٰۤـَٔادَمُ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكࣲ لَّا یَبۡلَىٰ)
Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
_____
[Surat Tha-Ha 120]

Iblis bersikap seolah-olah menyampaikan kebaikan akan tetapi hakikatnya adalah tipu dayanya untuk menyesatkan Nabi Adam bahkan iblis bersumpah bahwa dirinya adalah orang yg memberikan nasehat sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

(فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّیۡطَـٰنُ لِیُبۡدِیَ لَهُمَا مَا وُۥرِیَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَ ٰ⁠ تِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّاۤ أَن تَكُونَا مَلَكَیۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَـٰلِدِینَ ۝ وَقَاسَمَهُمَاۤ إِنِّی لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِینَ)

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk orang yang memberikan nasehat kepadamu”
______
[Surat Al-A’raf 20 – 21]

Karena itu syarat dari nasehat adalah terlepas dari unsur tipu daya, tidak tercampur oleh apapun yang menodainya, sebagaimana arti dari nasehat itu sendiri adalah murni (bebas dari terkontaminasi ) karena itulah “emas murni” dalam ungkapan arab adalah :
ذهبٌ ناصحٌ
Madu asli ungkapannya :
عسلٌ ناصحٌ

dan taubat yang murni diungkapkan dengan istilah :
توبةٌ نصوحةٌ

4. Bahwa orang yang memberikan nasehat tidak bermaksud untuk mencela orang yang dinasehati.

• Konteks nasehat dalam pembahasan ini berbeda babnya dengan membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran dan tahdzir terhadap orang-orang yang menyimpang, karena jika terkait dengan bantahan terhadap penyebar syubhat dan kesesatan maka ia dibantah dan dicela penyimpangannya tersebut dan adakalanya disingkap terang-terangan kebathilannya jika tampak disitu mashlahah yang rajih, akan tetapi konteks nasehat disini adalah nasehat secara umum.

Dalam hal ini, berbeda antara nasehat dengan celaan. Perbedaannya adalah : “bahwa nasehat dibarengi dengan menutup kesalahan orang yang dinasehati dengan tujuan agar orang yang dinasehati menuju jalan yg baik, adapun celaan ia adalah nasehat yang diiringi dengan membuka aib dan menjatuhkan kehormatan orang yang dinasehati”

Imam Fudhail bin Iyadh رحمه لله mengatakan:

: (المؤمن يستر وينصح والفاجر يهتك ويُعيِّر)

“Orang mu’min menutup aib dan memberikan nasehat sementara orang durhaka mencela dan membuka aib”

Orang yang memberikan nasehat tujuannya adalah menghilangkan serta menjauhkan mudharat dan keburukan dari seorang muslim, sedangkan pencela tidak ada tujuannya kecuali semata-mata mencela dan menjatuhkan, agar orang yang dinasehati mendapat mudharat dalam urusan dunianya.

Sebagian ulama mengatakan:

من أمر أخاه على رؤوس الملأ فقد عيَّره
“Siapa yg memerintahkan (kebaikan) kepada saudaranya secara terang-terangan didepan orang banyak maka berarti ia telah mencelanya”

Misalnya, seseorang yang berkata didepan orang banyak kepada saudaranya dan memerintahkan kepadanya kebaikan : ” Ya akhi Fulan.. Hendaklah anda ikhlas dalam amalmu…! hendaklah anda bersedia untuk ta’awun dalam kebaikan..! Hendaklah engkau begini dan begitu…!”

Maka ini hakikatnya adalah celaan ketika itu ia sampaikan dihadapan orang banyak, seolah-olah terisyarat dalam ungkapannya bahwa si Fulan tadi bukanlah orang yang ikhlas dan bukan orang yang mau ta’awun dalam kebaikan, meskipun ia mengklaim bahwa maksudnya adalah nasehat.

Dahulu para salaf tidak senang menyuruh kepada yang ma’ruf secara terang-terangan didepan makhluk tapi mereka lebih suka jika yang “diperintah” dan yang “memerintah” dilakukan secara sembunyi- sembunyi, demikian juga dalam perkara melarang dari kemungkaran.

• Diantara rujukan yang bagus untuk dibaca dalam hal ini adalah kitab kecil karangan Imam Ibnu Rajab Al hanbali yang berjudul “Al Farqu baina An Nasihati wa At Ta’yiir, (“Perbedaan Antara Nasehat dan Celaaan”)

5. Hendaklah nasehat itu dilakukan atas dasar adanya ukhuwwah dan kecintaan yang dibangun diatas dasar keimanan, tidak dengan menggunakan cara yang kasar dan keras.

Allah Ta’ala berfirman :

(ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”
_______
[Surat An-Nahl 125]

6. Hendaklah nasehat tersebut adalah nasehat yg dilandasi dengan ilmu dan penjelasan yang bagus serta dengan hujjah/ landasan yang jelas.

Allah Ta’ala berfirman :

(قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah diatas dasar bashirah, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”
_______
[Surat Yusuf 108]

Makna “Bashirah” dalam ayat ini adalah :

عَلَى عِلْمٍ وبَيِّنةٍ ومعْرِفَةٍ تَامةٍ تُمَيِّزُ بِهَا بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وحُجَّةٍ واضِحَةٍ

” Ilmu, penjelasan, pengetahuan yang sempurna yang membedakan antara yang haq dan yang bathil serta hujjah yang terang”

Berkata Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah :

(ومن الحكمة الدعوة بالعلم لا بالجهل والبداءة بالأهم فالأهم، وبالأقرب إلى الأذهان والفهم..)

“Termasuk bagian dari bentuk hikmah adalah berdakwah dengan ilmu bukan dengan kejahilan, memulai dengan sesuatu yang paling penting dan yang paling mudah dicerna dan dipahami.. ”
____
Tafsir As Sa’di

• Apabila nasehat tidak tegak diatas ilmu maka akan sulit diterima disebabkan orang yang dinasehati akan meragukan kebenaran tentang perkara yang disampaikan .

• kemudian hendaknya memilih kalimat yang mudah diterima dan penjelasan yang jelas dan sesuai dengan tingkatan akal dan pemahaman orang yang dinasehati, sebagaimana ungkapan yang mengatakan :

خاطبوا الناس على قدر عقولهم
“Berbicaralah dengan manusia itu sesuai dengan tingkatan akal mereka”

7. Hendaklah nasehat itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan janganlah dilakukan secara terang-terangan didepan manusia kecuali ada maslahat yang rajih.

• Berkata Imam Ibnu Rajab رحمه لله :

” كان السَّلفُ إذا أرادوا نصيحةَ أحدٍ ، وعظوه سراً ”

“Dahulu para salaf ketika memberikan nasehat dilakukan secara sembunyi-sembunyi”
______
Jaami’ul ‘Ulumi wal Hikam

kecuali jika ada maslahah yang kuat didalamnya, contoh :
Seseorang yang menyebarkan hadits-hadits palsu atau menyebarkan penyimpangan di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin, maka yang semacam ini boleh dinasehati secara terang-terangan untuk menjaga kemaslahatan umum agar terjauh manusia dari penyimpangan dan agar mereka tidak tertipu dengan kebathilan.

8. Hendaklah orang yang memberikan nasehat agar memilih ungkapan kata-kata yg paling bagus, dan melunakkan intonasi dalam berbicara serta ungkapan yang baik.

Allah Ta’ala berfirman nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam :

(فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ)
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”.
______
[Surat Tha-Ha 44]

9. Hendaklah orang yang memberikan nasehat selalu bersabar atas respon yang timbul baik celaan ataupun gangguan, karena menyampaikan kebenaran itu berat dan mesti mendapatkan ujian.

Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﻭﻣﻤﺘﺤﻦ ﻓﻼ ﺗﻌﺠﺐ ﻓﻬﺬﻱ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ
“Kebenaran itu akan senantiasa ditolong dan diuji, maka itu janganlah heran karena itu merupakan ketentuan dari Ar Rahman”

10. Bahwa orang yang memberikan nasehat harus selalu berusaha menyembunyikan rahasia dan aib orang yang dinasehatinya, meskipun kadang orang yang dinasehati belum bisa menerima nasehat yang disampaikan, kecuali ada mudharat dan keburukan yang bersifat umum yang harus dihindari dengan cara menyebutkan aibnya tadi ، maka ini masuk dalam masalah :

ارتكاب اخف الضررين لدفع أعلاه

” Menempuh mudharat yang lebih ringan diantara dua mudharat untuk menolak mudharat yang lebih besar”

Related Posts

Leave a Reply