Kaedah Dalam Ibadah (Bagian Kedua)

(Bagian Kedua)

Klik disini untuk melihat artikel sebelumnya, Kaedah Dalam Ibadah (Bagian Pertama)

KAEDAH PERTAMA :

💠 Al Ikhlash

Apa makna Ikhlas dalam beramal ?

Allah Ta’ala berfirman :

﴿ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﺣُﻨَﻔَﺎﺀَ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﺩِﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻤَﺔِ

‏[ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ ﺍﻵﻳﺔ : 5 ‏]
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

___________________

Surat Al Bayyinah : 5

Ikhlas disini mencakup dua makna :

1- Mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, yakni meyakini bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali hanyalah Dia saja. Maka ikhlas dalam makna yang pertama ini adalah menafikan sesembahan selain Allah. Ikhlas dalam makna inilah yang menjadi tujuan diutusnya para rasul sebagaimana firman Allah Ta’ala :

(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.”

_________________________

[Surat Al-Anbiya’ 25]

Imam Ibnu katsir rahimahullah dalam tafsirnya, beliau menafsirkan ayat ke 5 surat Al Bayyinah diatas dengan ayat ke 25 surat Al Anbiya.

2- Ikhlas dalam makna kedua adalah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir as-sa’di rahimahullah dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke 5 surat Al Bayyinah :

أي: قاصدين بجميع عباداتهم الظاهرة والباطنة وجه الله، وطلب الزلفى لديه

“Yakni : menjadikan tujuan seluruh ibadah mereka baik yang zhahir maupun yang bathin adalah untuk mencari wajah Allah dan untuk mencari kedekatan dengan-Nya.”
_______
Taisirul Karimir Rahman

Adapun ikhlas dalam makna kedua ini adalah menafikan seluruh tujuan yang diinginkan oleh hawa nafsu dalam mengibadati Allah kecuali hanya untuk mencari Wajah Allah, ridho-nya, pahala dan kedekatan dengan-nya.

Ikhlas dalam makna ini, menjadi syarat agar diperolehnya pahala dari Allah dan agar sebuah perbuatan menjadi sebuah ketaatan disisi Allah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu:

« إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ» (وفي رواية مسلم: “حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ “)

Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan sesuatupun yang engkau niatkan mencari dengannya wajah Allah melainkan engkau akan diberi pahala karenanya sampai sesuap makanan yang engkau letakkan dimulut istrimu
__________
HR. Bukhari No. 1295 – Muslim No. 1628

Berkata Imam An Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini :

فيه استحباب الإنفاق في وجوه الخير . وفيه : أن الأعمال بالنيات ، وأنه إنما يثاب على عمله بنيته ، وفيه أن الإنفاق على العيال يثاب عليه إذا قصد به وجه الله تعالى . وفيه : أن المباح إذا قصد به وجه الله تعالى صار طاعة ، ويثاب عليه

Dalam hadits ini terdapat anjuran berinfak dalam perkara kebaikan, dan juga dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa amal itu berdasarkan niatnya, bahwa sebuah amal hanya akan dibalasi dengan pahala sesuai dengan niatnya. Juga dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa memberikan nafkah kepada keluarga juga diberi pahala apabila dimaksudkan untuk mencari Wajah Allah Ta’ala , serta penjelasan bahwa perkara yang mubah apabila dimaksudkan untuk mencari Wajah Allah Ta’ala akan menjadi sebuah bentuk keta’atan dan akan diberi pahala pelakunya.
______
Syarh Shahih Muslim

Diantara defenisi ikhlas yang dianggap paling mencakup dalam makna ini adalah yang disebutkan oleh imam Ibnu Qayyim rahimahullah :

اﻹِْﺧْﻼَﺹُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺗَﻄْﻠُﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻠِﻚَ ﺷَﺎﻫِﺪًا ﻏَﻴْﺮَ اﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﻻَ ﻣُﺠَﺎﺯِﻳًﺎ ﺳِﻮَاﻩُ.

Ikhlas adalah engkau tidak menuntut adanya saksi atas amalanmu selain Allah dan tidak pula menuntut ada yang membalasi amalanmu selain-nya”
_______
Madarijus Salikin 2/92

Seorang yang ikhlas adalah yang merasa puas hanya dengan Allah saja, yakni cukuplah baginya Allah saja yang mengetahui rahasia amalannya tanpa butuh sedikitpun makhluk mengetahuinya dan tidak ia merasa sedih atau kecewa karena makhluk tidak mengetahui amalannya, bahkan ia tenang dan gembira karena meyakini Allah adalah yang menjadi saksi atas amalannya. Allah Ta’ala berfirman :

(.. أَوَلَمۡ یَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ شَهِیدٌ)

Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Rabb-mu menjadi saksi atas segala sesuatu?
_____
[Surat Fushilat 53]

Bisyr bin Al Harits rahimahullah berkata :

ﺍﻛْﺘُﻢْ ﺣَﺴَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻜْﺘُﻢْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻚَ
Sembunyikan kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu
______
Hilyatul Auliya’ No. 12938

Demikian juga, orang yang ikhlas tidak butuh kepada makhluk membalasi amalannya, karena cukup baginya pahala dari sisi Allah dan keridhoan-Nya sebagai sebaik-baik balasan yang ia harapkan .

Bersambung

Related Posts

Leave a Reply