Lihatlah Siapa Sahabatmu dan Dimanakah Majelismu

Diantara kebaikan yg diberikan oleh Allah kepada seseorang adalah Allah jadikan untuknya sahabat – sahabat yg mengingatkannya ketika lupa, memotivasinya kepada kebaikan dan menolongnya untuk istiqomah diatas al – Haq.

Jika seseorang menjumpai sahabat seperti ini maka janganlah menjauhinya dan meninggalkannya.

Karena ketika seseorang meninggalkan sahabat yang baik dan menukarnya dengan sahabat yg buruk maka itu bisa jadi pertanda awal musibah dalam agamanya…disebabkan agama seseorang berdasarkan agama sahabatnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam :

“الرجل على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل”
[Seseorang itu berdasarkan agama temannya, maka hendaklah seseorang melihat siapa yg ia jadikan teman]

(HR. Abu Dawud : 4833 , At Tirmidzi : 2378 dan dinyatakan shahih oleh syekh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 927)

Teman atau sahabat yang buruk lama atau cepat akan mengantarkan seseorang kepada keburukan juga. Karena itu para salafush shalih menjadikan shahabat seseorang sebagai ukuran baik buruknya agama seseorang.

Berkata Al-Imam Yahya bin Sa’id Al-Qotthon rahimahullah :

لَمَّا قَدِمَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ الْبَصْرَةَ: جَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى أَمْرِ الرَّبِيعِ يَعْنِي ابْنَ صُبَيْحٍ , وَقَدْرَهُ عِنْدَ النَّاسِ , سَأَلَ: أَيُّ شَيْءٍ مَذْهَبُهُ؟ قَالُوا: مَا مَذْهَبُهُ إِلَّا السُّنَّةُ قَالَ: مَنْ بِطَانَتُهُ؟ قَالُوا: أَهْلُ الْقَدَرِ قَالَ: هُوَ قَدَرِيٌّ

[Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Bashrah, maka beliau mulai memperhatikan perkara Ar-Robi’ bin Shubaih dan kedudukannya di tengah manusia, beliau pun bertanya: “Apa mazhabnya? ”
Mereka berkata: “Tidak lain mazhabnya kecuali sunnah” .
Beliau berkata lagi : “Siapa kawan dekatnya? ” Mereka berkata: ” Para pengingkar takdir”.
Beliaupun berkata: ” Dia adalah pengikut qodariyyah (golongan pengingkar takdir)” ]
_____
(Al-Ibaanah Al-Kubro, 2/453 no. 421)

FAEDAH

Demikianlah kaedah dan prinsip yang dipegang oleh salafus shalih kita. Menilai agama seseorang itu dari sahabatnya. Karena itu jauhilah bersahabat dengan pelaku kesyirikan ahli bid’ah dan pelaku ma’shiyat lebih lebih lagi kalau ia adalah tokoh dan pelopornya.

Berkata sahabat yg mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu :

[اعتبروا الناس بأخدانهم، المسلم يتبع المسلم، والفاجر يتبع الفاجر]

[ Nilailah manusia itu berdasarkan teman-temannya, muslim hanya mengikuti yg muslim , yg durhaka hanya mengikuti yg durhaka ]
________
(Kitab Al- Ibanah 2/477 No. 502 dan bagian yg pertama dari perkataan ini dikeluarkan oleh Imam al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 13/70)

Bahkan sampai para salafush shalih menjadikan tempat/rumah siapa yang dikunjungi seseorang dan dirumah siapa ia menginap menjadi kaedah untuk menilai agama seseorang.

Berkata Imam Abu Hatim rahimahullahu : ” Telah datang ke kota Baghdad Musa bin ‘ Uqbah, lalu disebutkan (kedatangannya tersebut) kepada Imam Ahmad, maka beliaupun berkata :

[ أنظروا على من نزل، و إلى من يأوي ]
[ Lihatlah siapa yang disinggahinya dan bersama siapa dia tinggal ]
______
(Kitab Al Ibanah 2/480 No: 514)

Dengan demikian kita mengetahui…
Barometer agama seseorang adalah siapa teman dekat dan dimana majelisnya.

Siapa yang majelisnya adalah majelis domino dan kartu maka itulah agamanya meskipun ia menisbatkan diri kepada Sunnah.

Siapa yang majelisnya adalah majelis gosip dipasar pasar maka itulah agamanya meskipun ia menisbatkan diri kepada Sunnah.

Siapa yang majelisnya adalah kelompok kelompok sesat dan bid’ah ( kelompok kebatinan dan firqah-firqah sesat) maka itulah agamanya meskipun ia menisbatkan diri kepada Sunnah.

Siapa yang menimba ilmu dari majelis majelis syubhat dan bid’ah maka itulah agamanya meskipun ia menisbatkan diri kepada Sunnah.

Begitulah prinsip para salafush shalih kita, yg mana kita mengaku berpegang dengan manhaj mereka.

Jika begini perkataan mereka dizaman mereka yang pasti lebih baik dari zaman kita, yang lebih sedikit kesesatan, kebatilan, kemunkaran dan syubhatnya, lalu bagaimana mungkin kita bermudah mudah dalam hal ini dizaman kita ini…?

Dimanakah pernah kita mendengar Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Syekh Ibnu Baz, Syekh Muhammad bin Shalih al-utsaimin, Syekh Al Albani berkunjung ke majelis – majelis bathil atau menganjurkan kepada murid murid dan shahabat shahabat mereka untuk pergi berkunjung ke majelis – majelis bathil seperti ini walau hanya untuk sekedar senyum dan sapa ?
Atau dengan alasan “Ta’liiful Quluub (menjinakkan hati manusia)” …?

Lalu kemudian kita anjurkan pula ahlussunnah untuk ikut duduk duduk dipasar pasar atau dimajelis – majelis bathil hanya agar tidak dikatakan ” ia orang yang tidak pandai bermasyarakat …!?! ” atau dengan alasan ” beginilah bentuk hikmah berdakwah..?! ”

Wallahul Musta’aan…

Related Posts

Leave a Reply