Antara Tegas dan Lembut

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول اللَّهِ

Menjelaskan yg haq dan membantah setiap kesalahan merupakan suatu keharusan dan kewajiban bagi orang yang berilmu . Menyalahkan setiap pendapat yang jelas menyelisihi dalil yang berseberangan dengan kebenaran adalah wajib dan bukan akhlak yg buruk sebagaimana diduga oleh sebagian orang. Bahkan sikap yang mendua dan membiarkan kesamaran sehingga tidak diketahui mana yang haq dan yang bathil lalu menganggap itulah sikap yang benar dan hikmah dan lapangan dada terhadap perbedaan adalah sebuah kekeliruan .

Menjelaskan pendapat yang salah bukan pula berarti itu dianggap merendahkan jika muncul kesalahan itu dari ahlussunnah selama tujuannya adalah untuk menampakkan yg haq dan bagus dalam ungkapannya ..meskipun pihak yg disalahkan tidak suka dengan bantahan itu…namun jika ia terus menyelisihi dalil setelah sampai hujjah kepadanya disebabkan taqlid dan sebagainya maka ia layak untuk dicela meskipun ia seorang ahlussunnah.

Lihatlah bagaimana pengingkaran yang sangat keras dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap orang yang telah sampai kepadanya perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tapi masih berkilah dengan perkataan shahabat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma :

“يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء، أقول لكم: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقولون: قال أبو بكر وعمر ؟! “

Hampir saja turun atas kalian hujan batu dari langit. Aku katakan kepada kalian :”telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam” namun kalian malah mengatakan :”telah berkata Abu Bakar dan Umar”

Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah dalam fatwa beliau mengomentari atsar yang mulia ini :

” اذا كان من خالف السنة لقول ابو بكر وعمر- رضي الله عنهما – تخشى عليه العقوبة فكيف بحال من خالفها لقول من دونهما أو لمجرد رأيه واجتهاده”

Jika orang yang menyelisihi sunnah karena perkataan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dikhawatirkan ia mendapatkan azab lalu bagaimana dengan keadaan orang yang menyelisihi sunnah karena perkataan selain keduanya atau semata-mata akal dan ijtihadnya saja”

Kadang kadang sebagian salaf dahulu apabila sampai kepadanya sebuah perkataan, maka ia mengingkari orang yang mengatakan itu:

Telah keliru si Fulan”

Bahkan dalam hal ini juga ada sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam:

كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ
Telah keliru Abu Sanabil”

________________________
(Musnad Ahmad :4273)

tatkala sampai kepada beliau bahwa abu Sanabil berfatwa tentang seorang perempuan yg dalam keadaan hamil ditinggal mati suaminya tidak boleh menikah setelah ia melahirkan sehingga berlalu masa 4 bulan 10 hari.”

Lalu, jika demikian halnya, akankah kita akan menyalahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah..tidak baik menyalah-nyalahkan orang lain” ….???!!!

Juga seperti perkataan Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dalam mengingkari pendapat Abu Muhammad Anshori radhiyallahu’anhu yang mengatakan sholat witir itu wajib :

كَذَبَ أَبُو مُحَمَّدٍ
Telah keliru Abu Muhammad

________________________
(Sunan Abi Daud :425)

Akankah kita berkata kepada shahabat Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu : “Janganlah anda suka membantah pendapat orang lain ” ….???!!!

Bahkan Abdullah bin umar radhiyallahu ‘anhu tatkala beliau menyebutkan hadits :
«لا تمنعوا نسائكم المساجد إذا استأذنكم إليها»

Janganlah kalian melarang wanita wanita kalian ke mesjid jika mereka meminta izin kepada kalian untuk ke mesjid

______________________
(Shahih Muslim :442)

Maka berkata anaknya yang bernama Bilal bin Abdullah rahimahullah:

والله لنمنعهن

Demi Allah kami benar benar akan melarang mereka

Maka marah Abdullah bin umar dan mencela dengan celaan yang sangat keras yg tidak pernah didengar beliau mencela seperti itu, sebagaimana kisah ini diriwayatkan oleh anak beliau yang lain yakni Salim bin Abdullah bin Umar :

فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ
Maka beliau mencelanya dengan celaan yang buruk yang tidak pernah aku dengar beliau mencelanya seperti itu sekalipun

Bahkan dalam riwayat ath Thoyalisi bahkan beliau menampar anaknya Bilal bin Abdullah .

⚡ Akankah kita berkata kepada shahabat Abdullah bin umar radhiyallahu ‘anhu : “Belajar lah adab..jangan mencela orang yang beda pendapat dengan kita, bukan begitu bersikap kepada orang yg menyelisihi kita apalagi kepada anak sendiri” ….???!!!

Kemudian lihat pula sikap shahabat Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu terhadap seseorang yang melakukan khadzaf (melempar dengan batu/pakai ketapel) lalu diberitahukan larangan Nabi dalam hal itu, namun diulangi lagi, maka apa kata beliau radhiyallahu ‘anhu :

أخبرك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكره أو ينهى عن الخذف ثم أراك تحذف والله لا أكلمك أبداً

Aku telah beritahukan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam membenci atau melarang dari khadzaf kemudian aku lihat engkau masih melakukannya Demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selamanya

____________________
(HR. Muslim :1954)

Akankah kita berkata kepada shahabat Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu :

Perbaikilah akhlak anda ..bukan begitu bersikap kepada orang yg menyelisihi kita.. belajar lah untuk berlapang dada” ….???!!!

Begitu juga Imam Ahmad rahimahullah sangat keras mengingkari
pendapat pendapat yang dhoif dari Abu Tsaur dan yang lainnya dan banyak lagi contoh lainnya .

✳Begitulah sikap para salaf, lalu pantaskah kita yang tidak paham hakikat permasalahan berkata kepada mereka ” berlemah lembutlah kalian ” ….”kalian kurang memperhatikan adab” ….”banyak banyak lah kalian belajar“…??!!

Sungguh kita akan meneladani salaf dalam lembutnya dan juga dalam tegasnya.

Adapun jika penyimpangan itu muncul dari da’i ahli bid’ah yang ingin menyebarkan syubhat dan kebathilannya.. Maka mesti disingkap kesesatannya karena itu termasuk bentuk dakwah agar kaum muslimin menjauh dan waspada dari mereka . Sebagaimana celaan yang sangat keras dari Nabi shallallaahu ‘ alaihi wasallam kepada Khawarij :

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ

AL KHAWARIJ ADALAH ANJING-ANJING NERAKA

_______________
(HR. Ibnu Majah :173 dan Ahmad 19130, 19415 dari Ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu )

Akankah kita berkata kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam dan mengajari beliau dengan berkata: ” Ya Rasulullah.. Bersikap hikmahlah… Pilihlah ungkapan yang baik, dan berlemah lembutlah..!!??

Padahal beliaulah yang telah bersabda :

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَه ُ
Sesungguhnya kelembutan tidaklah diletakkan pada sesuatu kecuali akan menambah indah sesuatu itu dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali menambah buruk sesuatu itu

_______________

(Shahih Muslim :2594)

Banyak yang kaum muslimin yang tidak paham tentang uslub para ulama dalam membantah kebathilan dan membela sunnah. Sehingga ketegasan mereka anggap sebagai kekasaran dan sikap kurang hikmah..

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah :

«حفظ السنة بالدفاع عنها والرد على شبهات أهل البدع»

Menjaga as-Sunnah adalah dengan membelanya dan membantah syubhat-syubhat ahli bid’ah.”
__________________________________
Majmu’ul Fatawa, jilid 2 hlm. 143

Related Posts

Leave a Reply